Neo Nightmare Campus 3: Innocence Fall




Neo Nightmare Campus 3: Innocence Fall
Disclaimer:* Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang sok alim.* Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.* Cerita ini dibuat hanya sekedar iseng dan meredam rasa kangen pada cerita Imron yang asli yaitu nightmare campus dan nightmare sidestory karya bos Shusaku.

****************

Kamar Hendra



“Jadi menurut lu gimana?” tanya Hendra saat sambil bermain PS.

“Siapa?” tanya Sarif yang sedang asyik mengatur formasi bola.
 

“Itu si Ivana, cewek yang selama ini bikin kita kesengsem” kata Hendra membuat Sarif terbatuk dan kesal gara-gara Hendra menekan tombol pause pada stik PS dan naik ke ranjang, Sarif mendelik marah karena pertandingan baru dimulai tapi terhenti.

“Dia manis, imut-imut, polos, ramah, tapi….?” kata Hendra terhenti, lalu memandang Sarif.

“Kenapa kamu naksir ma dia?

Hendra hanya tersenyum simpul sedangkan Sarif melotot karenanya. ”Lu yang naksir kali, dia kan budak Imron, ga nyangka kan cewek baik-baik gitu juga ternyata…”


“Yah, eh, bukan gitu. Tapi dia emang bedakan ama yang laen, Ivana itu baik banget sama semua orang”

“Terutama sama Imron gitu, maksud kamu? sama aja Rif, hehehe?” sambil cengengesan.

“Selama ini semuanya nggak peduli sama kita Rif, gak ada yang menganggap kita ada kecuali waku dibutuhin doang” kata Hendra lagi.

“kalo aku sih setuju aja Hen, oke….oke, ini memang waktu kita buat balas dendam…hahahaha”

“Tapi…Ivana emang beda, dia ga kaya yang lain, lu inget waktu dia nawarin kita nyicipin sample kue waktu dia jaga stand itu?” kata Hendra mengingat-ingat beberapa bulan lalu ketika bazar gadis itu menawarinya potongan brownies buatannya dan teman-temannya untuk dicoba, “gua tau dia itu tulus, keliatan dari senyumnya sama tatapan matanya, kalau cewek lain waktu itu mungkin ngelirik kita juga ngga”

“Ah…sok romantis lu Hen, kalau ada kesempatan ngentot sama dia pasti ga akan lu lewatin kan!?” kata Sarif sambil mengeplak kepala belakang Hendra.

Keduanya pun tertawa terbahak-bahak dalam obrolan mesum mereka.

*****************************

Kampus Universitas *******



“Diem dulu ah!” sahut Hendra ketika lamunannya buyar oleh Sarif, sementara Sarif terkekeh di sampingnya.

“Kenapa Hen dengan bu Rania? kok ampe segitunya, ampe ngelotot lagi?” tanya Sarif masih terkekeh.

“Dia asyik Rif, sayang gua bukan anak ekonomi, dapet kuliah sama dosen kaya gitu dijamin ga akan ngantuk di kelas deh gua!” kata Hendra, “aku suka banget, orangnya juga lembut dan ramah”

“Gak kayak Bu Mintje? gitu maksudnya?” balas Sarif merujuk ke salah satu dosen mereka yang gendut dan terkenal killer gitu

“Bujubuneng, kok dibandinginnya sama si kuda nil itu sih? Ga level banget kali bandingannya” Hendra malah tertawa geli.

Tak lama kemudian, Vina muncul dari balik gedung dengan menggunakan pakaian yang minim yang sangat indah tuk di lihat dan sekalian buat cuci mata, setidaknya itu yang dipikirkan Hendra ma Sarif.

“Wowww…Vina, alamak cantiknya” kata Sarif membuat Hendra mencatok kepalanya, lalu Hendra melambaikan aba-aba untuk Vina mengetahui mereka berdua berada.

“Asli cakep benget cuy...bening” kata Sarif lagi

“iya dah tau kok”? jawab Hendra sambil tersenyum dengan kedatangan gadis itu.

“Hay Hen, sapa dia?” tanya Vina untuk sedikit berbasa-basi

“dia sobatku gak apa-apa kok” jawab Hendra

“Oke deh…to the point aja ya, aku dengar nanti sore sekitar jam 4 Imron bakalan kencan dengan salah satu budaknya di laboratorim” jelas Vina

“oke, aku percaya sama kamu, tapi awas jika informasinya salah” gertak Hendra

Tiba-tiba Sarif meremas pantat Vina dari samping namun tangannya tertangkap Hendra, setelah pembicaraan singkat itu Vina meninggalkan pergi entah kemana.

“gak sabaran amat sih lu Rif, ini salah satu cara buat kepuasan lebih” kata Hendra kesal

“abisnya nafsuin banget sich Hen, bening jadi ngaceng nih” jawabnya cemberut

“ya udah kita telpon aja si Selvy, gimana?” saran Hendra yang di sambut dengan senang oleh Sarif

******************************

 

Rania
 
Rania melangkahkan kakinya dengan berat menuju laboratorium. Ia melirik seorang petugas kebersihan yang sedang membereskan sesuatu, sepertinya baru selesai mengepel.

“Ngapain lagi laki-laki brengsek itu di sana? Benar-benar keterlaluan, ini sudah kelewatan” marahnya dalam hati.

Rania berdengus miris ketika memasuki Lab dengan gontai. Ia mendapati isinya sudah dalam keadaan bersih. Dengan dahi mengernyit saking marahnya pada diri sendiri.

“Kenapa malah aku sendiri yang datang, apakah aku sudah terbiasa dengan ini semua?” itulah pikiran yang selama ini selalu hadir dalam pikirannya.

Sudah bertahun-tahun dia menjalani kehidupan dengan baik. Setiap saat penuh kegembiraan. Sebagai seorang dosen yang sudah sangat dipercaya tapi sekarang semua itu berubah menjadi mimpi buruk buatnya. Ia telah menjadi budak seks sejak Imron menjebaknya di kelas dulu, ditambah lagi Pak Dahlan, si dosen amoral itu, tapi disadari atau tidak, nampaknya ia mulai terbiasa dengan semua itu, bahkan menikmati tugasnya sebagai budak seks mereka. Ia melangkah lebih jauh memasuki sebuah ruangan yang ada di di dalam LAB itu. Memang sekitar seperempat jam sebelumnya, dari jendela ruang dosen ekonomi di seberang lab, ia melihat Imron masuk dan tak lama kemudian disusul seorang gadis cantik, hingga kini mereka belum keluar dari sana. Rasa ingin tahunya menggiringnya berniat untuk masuk ke ruangan itu. Mendadak didengarnya suara aneh, seperti desahan seseorang. Dosen cantik itu memasang telinga baik-baik, ternyata suara itu memang berasal dari dalam ruangan itu. Dengan jantung berdebar-debar, Rania semakin mendekat pelan-pelan, darahnya berdesir, ketika ternyata itu suara orang yang sedang bercumbu, sebuah pemandangan yang mengundang gairah.




Ivana
“Oh…Non Ivana….kamu tambah pinter aja deh!” Imron menceracau sambil meremasi payudara Ivana.

Ivana menatap Imron dan tersenyum, ya…senyum mungkin bisa dibilang sangat terpaksa.

“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu mulus dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin bapak gregetan aja non!”

Tangan kasar Imron terus menggerayangi lekuk-lekuk tubuh gadis itu yang indah. Ivana terus saja menatapnya dan kini bergantian, dan benar saja…setelah beberapa saat, Imron menelan ludah karena reaksi Ivana, ia menurunkan sendiri cup BH sebelah kirinya, lalu tangannya itu meraih penis Imron. Astagaaa!!! Puting itu begitu menggoda dan merah sekali…tegak mengacung, lebih menggairahkan dari pada dulu ketika pertama direnggut keperawanannya di ruang UKS. Bagaikan Jeckyl dan Hyde, gadis alim itu mulai berubah binal, mungkin itu semua berkat bantuan Imron cs yang secara sabar membimbing dan menggali sisi liarnya sehingga ia mahir memuaskan pria.

“Sssshh….oofff….hhhhhh..:” terdengar suara gadis itu mendesis seolah menahan kenikmatan ketika Imron menundukkan kepala melumat payudaranya yang terbuka itu, lidah panas pria itu menyentil-nyentil putingnya memicu libidonya.

Imron kembali memejamkan matanya sambil menyusu pada payudara Ivana, sementara Ivana menggerakkan tangannya mengocoki kemaluan penjaga kampus bejat itu. Tak lama kemudian, tiba-tiba Ivana mendorong kepala Imron dari payudaranya. Ia lalu merundukkan tubuhnya dengan kepala mengarah ke selangkangan pria itu. Imron merasakan ada sesuatu yang hangat, basah, dan lembut menerpa penisnya. Ia mendesis dan membelai rambut gadis itu yang kini menjilati penis yang sudah bener-bener ereksi sekeras kayu itu. Dan…hap…penis itu pun masuk ke mulutnya. Ya, gadis alim, anak seorang dosen itu, mengisapi penis itu.



Tak tahan dengan perlakuan sepihak Ivana, Imron tarik pinggul gadis itu dan buru-buru melepaskan celana dalam krem yang dikenakannya. Ivana tidak protes sedikitpun malah menambah kekuatan hisapannya pada penis pria itu, jari Imron sibuk mengusap dan meremas pantatnya yang putih dan membulat indah, yang selama ini hanya menjadi khayalan banyak cowok di kampus ini. Diremas-remasnya pantat itu dengan gemas.

“Semuanya sekarang kudapatkan, ah…obsesiku tercapai…mau cewek baik-baik mau ayam kampus kalau udah keenakan dientot ga ada bedanya, hehehe” setan dalam hati Imron juga berbicara dan menunjukkan wujudnya dalam seringai mesum di wajah pria itu.

Puas dengan pantat gadis itu, Imron mengarahkan jarinya turun ke anus dan vaginanya. Ivana merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jari Imron.

“Achh…Non…enak bangeeeeett….sssshhh…yah di situ enak banget dijilatin, uuhh!” Imron menceracau menikmati lidah dan hangatnya mulut Ivana saat kepala penis dan lubang kencingnya dijilati.

Sungguh Imron merasa seperti melayang tinggi ke langit saat bibir dan lidah gadis itu menyapu lembut kepala dan batang kelelakiannya. Hingga akhirnya….

“Non….bibir kamu lembut banget sayaaaanngg….aku…kach…aku….” suara Imron terputu-putus, “yaaa…Ouuuuufuffffff….. argggghhhhh!!”

Tak dapat ditahan lagi, bobol sudah pertahanan Imron. Crottt…crooottt….croooottt! Spermanya muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Ivana. Tangan Ivana yang halus dan lembut tak berhenti mengocok-ngocok senjata andalan Imron, seolah ingin melahap habis cairan yang dimuntahkannya.



Imron berganti posisi, dibaringkannya tubuh Ivana pada meja panjang lalu memasukkan telunjuknya ke vagina gadis itu, mencari daging kecil sensitif di dalam gua lembab itu. Akibatnya luar biasa, Ivana makin menggeliat dan merintih, tangannya meremas payudaranya sendiri. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulut Imron, tentu saja hal ini tak disia-siakan. Imron menyedot kuat agar dapat menelan cairan yang meleleh dari vagina Ivana. Ya…aroma vagina sang bunga kampus yang gurih dan menggairahkan.

“ayoo...pak…ochhh…ahhhhhh!” Imron paham dengan gerakan pantat Ivana makin liar.

Makin kencang kocokan jari Imron makin berdenyut pula vagina Ivana.

“sebentar lagi ngecrot deh”, pikir Imron.

‘brak…bruk!’ tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh di ruangan itu membuyarkan buaian kenikmatan mereka.

“pak…apa tuh?” tanya Ivana bergetar karena kaget, “ada suara orang di luar”

Sontak Imron melepaskan jilatannya. Ivana memandang Imron dengan ekspresi tegang.

“Wah…mau ngapain jam segini ada orang kesini?” kata Imron sedikit panik, “siapa itu?” panggilnya ke arah suara tadi.

Ada sebersit ekspresi kecewa di wajah kedua insan ini terutama Ivana yang hampir meledakkan orgasmenya namun terputus oleh kedatangan tamu tak diundang itu.

“Sa...saya Pak” sahut Rania dengan sedikit gugup dari balik jendela nako yang agak terbuka, ia tak sengaja menyenggol sebuah tempat selotip di meja ketika mengintip sehingga mengejutkan Imron dan Ivana yang sedang berasyik-masyuk.



Imron membukakan pintu dan menarik lengan Rania masuk ke dalam ruangan itu, lalu melongokan kepala keluar kalau-kalau ada orang lain lagi di situ.

“Eeehh…ternyata Bu Rania, dari tadi ya Bu? Tumben nih datangnya labih awal, kayaknya ada yang penting?” tanya Imron sedikit mengejek karena Imron sadar kalau ada janji dengan dosen cantik ini.

Mata Imron memandangi tubuh Rania yang dibungkus kemeja biru langit ketat memperlihatkan lekukan badannya yang indah dan dadanya yang membusung, serta bawahannya memakai celana panjang berbahan katun.

”Ini Ivana Bu...kita belum lama kok mulai” Imron memperkenalkan Rania pada Ivana yang baru turun dari meja dan berdiri terpaku di hadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya.

Ivana hanya menganggukkan kepala dan tersenyum dipaksa pada Rania karena keadaannya yang tinggal memakai kaos yang telah disingkap hingga ke atas dadanya.

“Gak usah malu Non, Bu Rania ini ke sini mau gabung sama kita kok!” kata Imron menghampiri Ivana lalu membelai tangan dan rambutnya.

Ivana dengan pasrah mengangkat kedua tangannya membiarkan Imron meloloskan pakaian terakhir yang tersisa di tubuhnya itu. Setelah meletakkan kaos itu di meja, segera saja Imron melumat bibir Ivana yang ranum dan tangannya meremas pantatnya yang montok. Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, Imron membimbing gadis itu menuju meja dan merebahkannya di sana.



Dengan cekatan Imron melucuti pakaiannya sendiri sehingga bertelanjang bulat di hadapan kedua wanita cantik itu.

“Achhhh….sshhhh….ooouuffggg!!” Ivana menjerit dan mengerang menerima serangan lidah Imron, pantatnya tersentak ke atas mengikuti irama permainan lidah pria itu.

“Hmm…nikmat sekali.vaginamu seger banget, Bu Rania, ayo dong, Ibu ke sini bukan cuma buat nonton doang kan?” sahut Imron sambil melirik Rania yang masih bengong.

“Hmmmppppppffpaaakkk….. pakkkk….. akh…akh…akkkuu!!” Ivana terus merintih keenakan menyebabkan Rania semakin terangsang menyaksikannya, ‘aku…mmmhhhhh…ssshhh…”

“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…” Imron berbisik sambil jari tengahnya terus mengocok vagina gadis itu dan jempolnya menggesek klitorisnya yang sudah sangat terangsang

Sungguh Ivana sudah dirangsang habis-habisan oleh Imron, vaginanya sudah sangat basah akibat lendirnya yang meleleh hingga membasahi belahan pantat dan meja di bawahnya. Imron kembali melirik Rania yang ternyata tanpa disadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-gosok selangkangannya dari luar celana, ia merasakan vaginanya mulai membasah dan mungkin birahinya semakin tak tertahankan. Tangan satunya bergerak melepas satu demi satu kancing kemejanya. Setelah semua terbuka, ia melepaskan kemeja itu, disusul sabuk dan risleting celananya. Celana itu pun jatuh melorot sehingga sepasang pahanya yang jenjang dan mulus itu terekspos. Ia melangkah ke arah Imron dan Ivana dengan tinggal bra dan celana dalam ungu melekat di tubuhnya. Sambil berjalan, tangannya ke belakang meraih kaitan branya lalu melepaskan penutup dadanya itu. Imron tersenyum mesum penuh kemenangan atas keberhasilannya menaklukkan kedua mangsanya itu.



########################

Di sebuah ruangan kosong tingkat 2



Seorang gadis berparas ayu, terbaring di meja tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Dua orang pemuda buruk rupa berdiri masing-masing di antara kedua paha mulusnya dan di samping wajahnya. Dengan nafsu yang sudah menggebu-gebu, Sarif menyodorkan penisnya ke mulut Selvy yang langsung direspon dengan bernafsu. Sesekali Sarif melihat Hendra mengocok penisnya sendiri dan sesekali menggosokkannya pada bibir vagina Selvy untuk memcapai ketegangan maksimal. Merasa kurang nyaman dengan posisinya, Sarif menarik badan Selvy dengan kepala menuju pinggir meja supaya kepalanya agak terjuntai di pinggirnya, setelah itu baru ia memasukkan kembali penisnya ke mulut gadis itu dengan kecepatan yang teratur. Pandangannya beralih pada Hendra yang sedang melakukan penetrasi ke vaginanya

“Eeemmm…0ooohhhh…ahhhh!!” Selvy melepas sepongannya dan mendesah sekuat-kuatnya karena terasa perih saat penetrasi itu berlangsung, namun sebentar kemudian, hanya kenikmatanlah yang terasa olehnya karena genjotan Hendra

Selvy mulai memasukan kembali penis Sarif ke mulutnya. Selama beberapa saat ke depan, ia terus mendesah nikmat namun semuanya tertahan oleh penis Sarif yang tertancap di mulut mungilnya. Setelah sekian lama dalam posisi demikian, Hendra dan Sarif lalu bertukar posisi. Sarif melihat bagaimana ternyata Selvy tanpa sabar menarik penis Hendra dan mulai mengocoknya, mungkin ia lebih suka penis Hendra karena ukurannya lebih besar dari pada Sarif. Sangat terlihat bahwa jari-jari Selvy tidak cukup untuk melingkar di penis Hendra yang membuktikan bahwa penisnya lebih gemuk dan panjang dari punya Sarif. Tanpa disuruh, Selvy memasukan penis itu ke mulutnya dan membiarkan pemiliknya menggoyang penis itu di dalam mulutnya yang hangat dan basah. Sarif yang sibuk di bawah mengorek-ngorrek vagina Selvy yang terasa lembab dan basah. Selvy ternyata tidak hanya menservice dengan mulutnya saja, sekali-kali dia memegang penis Hendra dengan erat dan menciumi dengan penuh gairah, seolah takut kehilangan. Sampai pada waktunya Selvy meminta Sarif untuk segera memasukan penisnya ke dalam vaginanya



Seinci demi seinci, batang kemaluan Sarif mulai melesak ke dalam jepitan liang vagina Selvy. Gadis itu menggoyangkan pantatnya untuk membantu memudahkan penetrasinya.

"Ouhh Hen…aaahh" Selvy hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat ketika Hendra memompanya sambil berpegangan pada kedua pahanya.

Tubuhnya tersentak-sentak saat Hendra dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam jepitan liang kemaluannya. Desahan yang keluar dari mulutnya pun semakin lama semakin keras. Melihat hal itu, nafsu Sarif makin membara yang berakibatkan kepada ketahanannya, setelah berselang beberapa lama jebollah pertahanan Sarif.

“Uuuhh…gua udah……dahhhh Sel!” Seruan Sarif terputus-putus.

Crett…creet…beberapa kali penis Sarif memuntahkan isinya di mulut Selvy. Selvy berkonsentrasi menelan cairan kental itu, namun karena cukup banyak, cairan itu meleleh sebagian keluar di antara bibir tipisnya. Setelah semprotan spermanya reda, Sarif mencabut penisnya dari mulut gadis itu dan menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke sebuah kursi. Kini Selvy tinggal melayani Hendra seorang, pemuda itu mengambil alih posisi temannya dan mulai menggenjotnya dengan sedikit kasar, mungkin karena dari tadinya sudah nafsu berat. Otomatis Selvy pun semakin menjadi-jadi dengan desahannya, Sarif duduk dikursi yang ada didekat meja itu sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngossan dan memandangi bagaimana penis Hendra keluar masuk lubang kenikmatan gadis itu, sampai-sampai klitoris Selvy ikut keluar masuk mengikuti irama goyangan Hendra. Sepuluh menit kemudian, Selvy mengalami orgasme dashyat, ia meminta supaya Hendra tidak berhenti menggoyang. Bosan dengan posisi itu-itu melulu, Hendra meminta untuk ganti posisi. Ia menurunkan tubuh gadis itu dari meja dan menyuruhnya nungging di pinggir meja untuk doggy style, penisnya kembali memenuhi vagina Selvy.



Tubuh Selvy kembali tersentak-sentak dan mulutnya mendesah tak karuan,

“ooohhh,,,, Hennn..llee..llee…biihhh….cepat!” erangnya terputus-putus.

Paha Selvy melebar dalam posisinya yang masih doggy style untuk menerima hujaman penis Hendra lebih dalam dan lebih cepat sehingga membuatnya mendesah keenakan.

“Bless,….ceppp, bless..,cepppp bless..!” sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Selvy sudah sangat becek.

Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Selvy teriak,

“Ah.., ahh.., ahh.., aku mau…. Ke…luar..!”
Kemudian Selvy langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis Hendra masih tertancap dalam vaginanya. Hendra segera menggerakkan penisnya lebih cepat untuk menyusulnya mencapai puncak kenikmatan. Tidak lama Hendra terasa bahwa dia ingin keluar.
“Keluarin di mana Sel?” tanya Hendra sambil melirik Sarif yang mungkin tertidur kecapean.
“Di dalam aja Hen..eehh..eh. aku gak subur hari ini!” jawabnya dengan suara yang terbata-bata.

Lalu ‘crott, crott..!’ penis Hendra segera mengeluarkan semburan spermanya.
“Ahh.oohhh,…shitttt.!” Hendra bersuara dengan keras,.
Kemudian Hendra langsung rebah di sebelah kanan Selvy, sementara Sarif bangun dari kursi dan memakai kembali pakaiannya. Setelah istirahat beberapa menit, Hendra dan Selvy pun memakai pakaian masing-masing. Setelah dalam berbenah diri, kedua mahasiswa bejat itu tersenyum ke arah Selvy.

“makasih ya Sel” kata Sarif dangan sedikit nada berbisik

“gua duluan ya, lagi ditunggu cici nich!” Selvy menanggapi dengan nada datar sambil membalikkan badan melangkah keluar dari ruangan itu.



“Eeehh Hen… gimana nih dah lewat dari jam empat loh, kita harus cepat ke lab kan?” tanya Sarif setelah Selvy hilang dari pandangan mereka.

Hendra bangun dari tempatnya duduk dan membuka tas yang dibawanya tadi.

“Wweii….ni tambah aneh aja lu belakangan ini…ditanya eh malah ga ada respon” Sarif mulai sewot dan tidak sabar

“santai Rif, kita gak usah datang ke lokasi” jawab Hendra santai sambil membuka laptop kecil dan menyalakannya.

“Kenapa Hen?” tanyanya sedikit bingung

“Nih…liat aja, apa gunanya teknologi kalah bukan membuat semua lebih gampang?” katanya sambil mengklik beberapa option di laptopnya, selang beberapa detik muncullah

“wowwww…keren…keren banget? Hahaha…ini baru mantep namanya!” sahut Sarif melihat yang ditunjukkan temannya itu, mereka berdua pun tertawa serempak

*********************************

Kembali ke lab.



“Aaaakkhhh…iiihhhhttttkkhh…!! ” Rania membeliakkan matanya ketika merasakan batang kemaluan Imron mulai menghujam dan membelah vaginanya dengan perlahan-lahan tapi pasti.

“Arhhhhh……iihhhhh…, Owwwww… peeelann.. Pak” Rania menolehkan kepalanya ke samping ketika merasakan Ivana menggenggam lembut tangannya.

“ooohhh bu Rania…masih sempit aja nih!” desah Imron ketika menjejali vagina Rania dengan penisnya yang besar itu.

Penjaga kampus itu tertawa penuh kemenangan sambil menancapkan kemaluannya semakin dalam sampai mentok kemudian ditariknya perlahan-lahan kemudian disodokkannya masuk sekaligus ke dalam jepitan vagina Rania. Semakin lama Imron semakin hilang kendali dan tidak memikirkan kondisi Rania yang kewalahan.

“Pelan-pelan Pakkk,aaaarrrhhhhhh…ooohhh!!” pinta Rania menahan rasa nyeri, namun Imron terus menggenjot vaginanya dengan kasar sampai kesakitan.

Walaupun sering berhubungan dengan Imron tapi harus diakui tidak semudah itu vaginanya yang mungil itu dengan mudah menerima penis Imron yang besar itu apalagi kalau dengan gayanya yang brutal. Ivana sebenarnya merasa kasihan dengan Rania, namun ia tidak dapat berbuat banyak selain duduk di pinggiran meja menghadap ke dada Rania yang bergelantung bebas, ia Ivana mengelus-ngelus payudara dosen cantik itu, lalu diemutnya putingnya dengan lembut. Ivana berharap dengan cara demikian ia dapat sedikit meringankan beban Rania akibat genjotan maut Imron.

“Ahhh…mmmhhh!!” rintihan Rania bertambah ketika Ivana menghisap ujung dadanya, ia malah mendekap gadis itu untuk menahan rasa sakit bercampur nikmat yang menjalar di tubuhnya



Dengan hisapan Ivana pada payudaranya dan perlakuannya yang jauh lebih lembut dari Imron, Rania tidak merasa kesakitan lagi malah berganti kenikmatan ketika penjaga kampus itu mulai melakukan genjotan-genjotan maut yang agak kuat dan kencang. ‘Crepppp…blleeesss…Clepp…clepp’ penis hitam besar itu keluar masuk menggesek-gesek dinding vagina Rania yang bergerinjal-gerinjal

“Ennnhh Ennnnh Ennnhh… paak! Ahhhhh…, Pak Imron!!” Rania merintih-rintih menerima kenikmatan yang menerpa tubuhnya, tubuhnya mengejang beberapa detik sebelum akhirnya terkulai dengan lemas, Imron menghela nafas panjang mengatur nafasnya sambil mencabut benda hitam dari selangkangan dosen cantik itu.

“Non Ivana…giliran Non sekarang hehehe” panggil Imron ketika Ivana masih mempermainkan buah dada Rania, dimintanya Ivana duduk di atas kursi kecil yang ada di situ.

“AHHHHH!! ”Ivana tersentak kaget ketika pahanya dibuka lebar dan dirasakan sebuah jilatan menyapu vaginanya, tubuhnya menggigil hebat ketika lidah Pak Imron mengorek-ngorek belahan vaginanya dan menyentuh kitorisnya.

“pakkkkkkkk…pakkk…terusshh!” badan Ivana kelojotan ketika mulut Imron mengenyot-ngenyot bibir vaginanya dengan kuat.

“Uhhhhh!! Crrrr Crrrr Crrrrr” cairan kenikmatannya mengucur deras dan diseruput dengan rakus oleh Imron

Kini Imron mulai mengarahkan batang kemaluannya pada bibir vagina Ivana. Gadis itu merintih menahan sakit ketika merasakan gesekan-gesekan benda hitam membelah vaginanya. Mata gadis itu terpejam rapat-rapat ketika merasakan vaginanya menerima benda hitam itu secara paksa.



“AAAHsssshhhhh…Owwww…jangan kasar Pak!!” rintih Ivana ketika Imron mulai mengenjotnya.

Imron tertawa penuh kemenangan sambil menikmati jepitan vagina Ivana pada batang kemaluannya. Ia menambah kecepatan genjotanya sambil meremas induk payudara Ivana. Sentakan-sentakan Imron kian bertenaga sehingga membuat Ivana membelalakkan matanya.

”Owwwww… pelllan dikit paaaakkk!“ Ivana tergoncang-goncang di atas kursi dengan sebatang penis Pak Imron yang besar dan panjang menggempur lubang vaginanya.

Imron menggeram kenikmaatan semakin kasar dan liar menarik dan membenamkan batang kemaluannya, begitu kasar, liar dan brutal, hingga membuat memar di sekitar vagina Ivana.

‘Clepp.. Cleppp Cleppp…Bleeesss’ berulang-ulang kali penis Imron keluar masuk vagina Ivana sesekali disertai gerakan memutar seperti mengaduk vagina itu.

“Oawww….!! Ampunnn… Pakkkk!! Jangan kasar!” rintih Ivana yang air matanya mulai meleleh membasahi pipinya yang halus, namun Imron tidak menghiraukan rintihan kesakitannya, malah semakin mempercepat genjotannya pada liang kenikmatan itu.

“Gimana Non…hhuuhh….uuhh…enak ga? Enak ga?” tanya Imron sambil terus menggenjot.

“enak…enak bangett…pakk!!” jawabnya terengah-engah ketika merasakan genjotan-genjotan brutal Imron semakin memberikan kenikmatan yang menjalari seluruh tubuhnya.

Itulah yang seringkali dirasakan Ivana dan budak-budak Imron yang lain, di satu sisi mereka merasa terhina dan dilecehkan sebagai budak seks, namun pada saat yang sama mereka juga tak bisa menolak atau bahkan menikmati semua perlakuan Imron cs.



"Pak…Imron…saya…aaghh.. aaghh…udah mau!" erang Ivana panjang dengan tubuh menggelinjang

Imron makin keras menghujamkan penisnya ke dalam rahim Ivana hingga semenit kemudian gadis itu menjerit keras melepas semua beban birahinya, lubang vaginanya berkedut-kedut kencang dan mengeluarkan banyak cairan hangat berwarna bening

”Hoosshh…hhhsssshh…!” Ivana bernafas ngos-ngosan setelah orgasme panjang yang menerpanya, buah dadanya yang bulat indah itu naik turun seirama nafasnya.

Kemudian Imron menolehkan wajahnya pada Rania yang bangkit dari meja tempatnya setelah terkulai lemas akibat orgasmenya tadi. Rania menatap sayu ke arah penis Imron yang masih mengacung dengan gagahnya, benda itu nampak basah oleh cairan kewanitaan Ivana.

“Bu, sini!” Imron memanggil Rania dengan menggerakkan telunjuknya seperti memanggil budak saja.

Perlahan-lahan dengan langkah gontai Rania mendekati Pak Imron. Tanpa diperintah, ia berlutut di depan selangkangan penjaga kampus itu dan meraih penisnya. Imron lalu menarik pergelangan tangan Ivana menyuruhnya turun dari meja dan ikut berlutut di samping dosen cantik itu.

“Beresin!” perintahnya sambil berkacak pinggang.

Ivana dan Rania pun mulai mengulum dan menjilati penis Imron, lidah-lidah mereka menyapu permukaan batang itu hingga bersih dari cairan orgame yang belepotan di situ. Keduanya secara bergantian mengemut batangnya dan buah pelirnya.
 



Tak lama kemudian, Imron melenguh dan mencabut batang kemaluannya. Seperti yang telah diduga Rania yang terakhir mengemut batang itu, Imron menyemprotkan spermanya ke arah kedua ‘bidadari’ di hadapannya itu. Cairan putih kental berbau tajam itu membasahi wajah, rambut, dan leher mereka.

“Ayo ditelen juga dong!” kata Imron meraih dagu Ivana dan mengarahkan penisnya yang masih memuntahkan sperma ke mulut gadis itu

Semprotan sperma Imron mereda sedikit demi sedikit dan ukuran penisnya menyusut di mulut Rania yang diperintahkannya untuk membersihkannya. Setelah Imron terduduk lemas di kursi, Rania memeluk Ivana hingga kedua buah dada mereka saling menempel, dijilatinya ceceran sperma di wajah gadis itu dengan lidahnya. Mereka juga sempat berciuman dan beradu lidah. Sungguh sulit di percaya melihat adegan itu, yang satu dikenal sebagai gadis baik-baik dan berprestasi, yang satunya dikenal sebagai dosen cantik dan terhormat, juga memiliki intelegensi di atas rata-rata, namun di depan Imron mereka tak lebih dari budak seks yang harus siap menuruti apapun perintah tuan mereka. Sesungguhnya,
Bak sekuntum mawar yang nampak indah,
namun dalamnya telah dirusak oleh hama.
Sayang seribu sayang,
Di dunia begitu banyak yang tak terbayangkan.
Nampak sempurna namun cacat;
nampak suci namun ternoda.

########################

Tempat Hendra dan Sarif



“wedew…mantep Hen… adegan live!” suara Sarif memecah kesunyian, “otak kamu udah encer sekarang Hen, tanpa memberi tahu aku kamu sudah mempersiapkan semuanya, bisa masuk CIA lu kalau gini sih” puji Sarif dengan nada salut pada sahabatnya itu

“Hehehe…ini baru awal Rif, masih belum seberapa, masih banyak yang harus kita lakukan untuk mendapatkan kenikmatan lebih” jawab Hendra dengan senyuman mengancam.

“Bu Rania…hihihi, selama ini cuma bisa liat di film bokep orang main sama dosennya, pokoknya Bu Rania gua yang pertama nyicip ya, si Ivana boleh lu dulu, kan lu kayanya naksir dia” kata Sarif sambil pikirannya nerawang ke mana-mana.

“Tenang coy, pokoknya kita jangan sampe gegabah, tinggal tunggu saat yang tepat” kata Hendra

Mereka berdua tersenyum-senyum mesum memikirkan rencana busuk apalagi yang harus dijalankan.

By: Dony Bro


© Karya Dony Bro

0 komentar :

Poskan Komentar